Nyilet dan Cara Pengobatannya

 

Seringkali para peternak menemukan burung peliharaanya menjadi kurus secara bertahap alias “NYILET” berbagai cara pengobatan sdh dilakukan, mulai dari obat cacing, penjemuran, pemindahan lokasi kandang, suplemen makanan ( probiotik, spirulina) beragam obat /antibiotik untuk sakit pencernaan & segala cara lain, tetapi belum sembuh juga.

Nyilet atau Megabacteriosis  adalah penyakit  burung, terutama jenis Love Bird (Agapornis ssp),
Parkit (Melopsittacus undulatus) dan burung kenari (Serinus canaria).
Dikenal juga sebagai “dada kering” atau “penyakit pisau”,  
dengan gejala penurunan berat badan secara bertahap, makin hari makin kurus (progresif), bisa disertai dengan kematian mendadak pada akhirnya.   
Burung sakit dicirikan tulang dada menonjol karena hilangnya daging/ massa otot dada Hewan dalam kondisi parah ada kalanya menunjukkan kesulitan dalam memecah biji dan makan dengan benar.

Di Eropa Australia dan Amerika Serikat, adanya gejala penyakit (patologi)  serupa secara luas dikenal sebagai “megabacteriosis” menyebabkan kematian pada burung  dewasa dan burung muda.. Penyakit ini juga telah dilaporkan menyerang burung lain, seperti Lesser Sulphur-kakatua jambul (Cacatua sulphurea sulphurea),
cockatiels (Nymphicus hollandicus).

Gejala:

Penyakit ini ditandai dengan melemahnya ketahanan tubuh terhadap penyakit (atau morbiditas) tinggi  sedangkan tingkat kematian atau morbilitas yang rendah dengan kata lain ,..lamaaaaaa mati-nya,… alias penyakit ini bisa berbulan bulan diidap sebelum mati. Bisa jadi burung mati lebih cepat karena infeksi sekunder karena melemahnya daya tahan tubuh.
Gejalanya terjadi pada  saluran pencernaan (gastrointestinal) yang kompleks dan burung menunjukkan penurunan berat badan drastis, dan berlangsung selama berbulan-bulan, meskipun yang mereka terus makan dengan lahap.

Gejala lain yang dilaporkan adalah diare dg bulu kotor  di sekitar kloaka dan adanya pakan yg tidak tercerna pada kotoran (feses) dan lendir muntah. Pada kasus yg parah :ditemukan feses/kotoran dengan darah. Penyakit ini juga dapat menyebabkan kematian mendadak .

Penyebab :

Awalnya, mister Uyttebroek & Ducatelle (1980)

menggambarkan struktur yang mirip dengan  jamur pada proventrikulus dari burung kenari dan parkit/budgerigars. Para penulis menyimpulkan bahwa agen etiologi, bertanggung jawab untuk penyakit, adalah jamur. Mikrobiologis, megabacteria dicirikan sebagai Gram-positif, PAS positif dan acidophilic pada bakteri noda Giemsa. (accidophilic = bisa bertahan dalam suasana lingkungan asam,…)

Penulis lain mister Scanlan & Graham (1990) juga melaporkan bahwa agen yang bertanggung jawab untuk penyakit ini adalah bakteri Gram-positif berukuran cukup besar. Mereka juga menyarankan bahwa megabacterium adalah komponen dari flora pencernaan normal pada beo, karena mereka mendapatkan bakteri ini dari unggas sehat.Diagnosis megabacteriosis dapat dilakukan pada otopsi bangkai (post-mortem), menggunakan kotoran dan / atau usapan lendir proventricular . Diagnosis Megabacteria mungkin sulit Tidak semua burung yang terinfeksi melepaskan organisme dalam kotoran mereka, sehingga tes negatif palsu sering terjadi.  Metode yang paling akurat diagnosis  adalah pewarnaan Gram dari mukosa proventricular di nekropsi.  Dokter hewan unggas dan laboratorium patologi dapat melakukan tes ini.

ini MENULAR ! dengan diam diam….

Pengobatan

Bahan Aktif : Amfoterisin-B – 2%   ( merk a.l.  : Megabac-S )  

Dosis : campur 250 mg dalam 50 ml air suling atau air murni.
Atau 1 gram untuk 200 ml air suling atau air murni
Perlakukan terus menerus selama 10 hari.
40g  dapat digunakan untuk perlakuan  230 ekor parkit selama 10 hari

Waktu perawatan biasanya 10 hari, selama ini tidak boleh ada sumber air lain yg disediakan.

Untuk pengobatan dalam cuaca basah dingin atau berkabut, burung harus ditempatkan dalam ruangan. Air yang mengandung obat harus diganti setiap hari. Lindungi  air obat dari sinar matahari , karena obat akan terurai dengan adanya sinar UV dari matahari. Jika burung tidak mengkonsumsi/minum air obat sesuai  jumlah yang diharapkan (6 ml per 100 gram Berat Badan) maka konsentrasi obat harus disesuaikan. Selama masa pengobatan, kebersihan dan disinfeksi sangat penting untuk keberhasilan pengobatan.

 

Oleh : Bpk. Kurnia Sutanto – Balikpapan

 

Tag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X
WhatsApp Admin NutriCG